Assalamu'alaykum wr. wb. Selamat datang di pembangunjiwa.blogspot.com. Blog ini adalah wujud partisipasi saya dalam dunia penulisan, semoga rangkaian kalimat didalamnya dapat membangun jiwa-jiwa yang sedang terjatuh dan memberikan kemanfaatan bagi dunia. Karna kita hidup bukan dengan apa yang kita miliki, namun kita hidup dengan apa yang dapat kita berikan pada dunia.

Minggu, 16 September 2012

Dzikrul Maut



            Wahai kawan, hal apakah yang paling tidak ingin engkau pikirkan? Kematian. Namun, kematian yang paling engkau takuti, yang engkau selalu berusaha lari daripadanya akan mendatangimu dan pasti akan mendatangimu. Dialah sakaratul maut, yang tak peduli dengan penguasa dan tak memiliki belas kasihan terhadap orang tua renta yang sakit-sakitan. Dia pasti akan datang dan pasti akan datang, tak peduli di benteng mana engkau bersembunyi, tak peduli apa yang sedang engkau lakukan. Apakah engkau sedang asyik bermaksiat? Sibuk merencanakan masa depan? Sedang dalam bulan madu? Atau sedang mengingati Allah? Jika dia telah menghendaki datang maka dia pasti datang. Dengan sukarela ataupun terpaksa.
Wahai kawan, tahukah bagaimana rasa sakitnya? Bahkan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang ma’sum merasakan sakit yang luar biasa. Dan orang-orang mukmin akan menghadapi yang namanya himpitan kubur, yang dengannya dosa-dosa dilebur. Namun, orang-orang berdosa, apa yang akan mereka hadapi? Sungguh engkau tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, dan sebaiknya engkau tak perlu membayangkannya jika engkau ingin malam ini bisa tertidur dengan nyenyak.
Saat orang-orang yang engkau kasihi menangisimu, saat itulah Sakaratul maut datang. Dan Izroil Sang pemutus segala kenikmatan akan mencabut ruhmu dengan paksa. Saat itu menangislah, merintihlah, menjeritlah, memohonlah atau berdo’alah, namun hal itu takkan menunda ataupun memajukan proses Sakaratul Maut. Saat itu bertautlah betis kanan dan kiri bersamaan datangnya rasa takut yang menggelegak. Kerongkonganpun mengering, bersama datangnya dahaga yang luar biasa, yang seandainya 7 samudra didatangkan maka engkau akan menghabiskannya hingga kering.
Sungguh, meski Sakaratul maut itu tak menampakkan bekas pada jasadmu, namun rasa sakit itu begitu nyata. Kulit itu, yang saat ini bisa kau sentuh, yang setiap hari engkau merawatnya, akan dikelupas perlahan-lahan tanpa mempedulikan jeritanmu yang menggaung di seantero cakrawala, meski jeritan itu tak bisa didengarkan oleh Jin dan manusia. Wajahmu yang cantik dan yang tampan itu, yang setiap hari kau oleskan kosmetik mahal tak tertinggal, ia akan disasat-sasat hingga tak menyisakan selembar kulitpun di atasnya. Meskipun engkau memohon agar proses Sakaratul maut dipercepat, namun Izroil seolah menikmati pekerjaannya dan melakukannya perlahan-lahan, setahap demi setahap. Bagaimanakah gambaran Sakaratul maut itu? Sakitnya seperti dicacah-cacah dengan seratus pedang.
Saat usai proses Sakaratul maut, jasadmu pun dimasukkan kedalam liang lahat seorang diri, sebatang kara. Istri yang sangat engkau cintai meninggalkanmu, dia hidup bahagia dengan suaminya yang baru. Anak-anak yang engkau sayangi telah lupa dengan keberadaanmu dan asyik bermain dengan teman-teman sebayanya. Hartamu dibagikan dan kembalilah engkau sebagai orang miskin papa yang tak memiliki apapun selain selembar kain kafan.
Disana ulat-ulat dan cacing kelaparan menyongsong kedatanganmu, mereka masuk melalui mulutmu, telingamu, matamu, dan membuat liang lewat kulitmu. Sedikit demi sedikit, mereka menggerogoti daging dan usus-usus. Namun sedikitpun engkau tidak peduli dengan rasa sakit itu karna engkau sedang sibuk dengan rasa sakit yang lebih dahsyat. Dimana kepalamu diremukkan, dimana biji matamu ditarik keluar hingga putus, dimana darahmu disedot dan dikeringkan, dimana isi perutmu dihamburkan keluar, dimana otakmu dibedah dan diiris tipis-tipis, dimana tulang belulangmu dicabut satu demi satu. Para Malaikat tak peduli dan sama sekali tak peduli betapa kerasnya engkau meronta.
Wahai kawan, itulah kematian yang pasti akan datang kepadamu. Itu bukanlah dongeng pengantar tidur atau sekedar film horror picisan yang biasa engkau nikmati. Engkau sungguh akan mendekam didalam kubur hingga Isrofil meneriakkan sangkakalanya dan menghancur leburkan alam semesta. Lalu bagaimanakah engkau akan menghadapinya? Apakah engkau akan cuek saja dan tak peduli? Apakah engkau akan membaca tulisan ini dengan tenang-tenang saja sambil menikmati kue brownies? Apakah engkau akan segera melupakan tulisan ini saat sang kekasih datang dan menggandeng tangan mesra? Tapi jika engkau memang masih ingin menikmati dunia, maka nikmatilah selagi bisa, atau engkau bisa mempersiapkan diri menghadapinya. Tapi kematian itu nyata. Dan filosofi kematian itu lebih nyata daripada filosofi kehidupan yang hanya sekejap mata.

………………………………………

Abdullah bin Iyas menceritakan dari ayahnya, bahwa suatu hari Umar bin Abdul Aziz mengantarkan jenazah ke kubur. Ketika para pengiring lainnya telah pulang, Umar dan salah seorang sahabatnya masih tetap berada di sisi kuburan tersebut.
Lalu sahabatnya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, jenazah yang kau antarkan itu telah meninggalkanmu, tidakkkah engkau juga ingin meninggalkannya?
Umar menjawab, “Ya, aku juga ingin meninggalkannya, hanya saja kuburan yang ada di belakangku seakan memanggilku dan berkata, ‘Wahai Umar, tidakkah engkau ingin bertanya kepadaku tentang apa yang telah kuperbuat terhadap orang-orang yang dikasihi?’
Hatiku menjawab, ‘Ya.’ Lalu dia berkata, ‘Aku telah mengoyak-ngoyak kain kafannya, mencabik-cabik badannya, menghisap darahnya dan memakan dagingnya.’
Kemudian dia berkata lagi, ‘Tidakkah engkau ingin bertanya tentang apa yang apa yang telah kuperbuat pada anggota tubuhnya?’ Aku menjawab, ‘Ya.’
Lalu dia berkata, ‘Aku telah mencabut kedua telapak tangan dari tulang hastanya, kedua tulang hasta dari tulang lengan atasnya dan kedua tulang lengan atasnya dari tulang pundaknya. Aku juga telah mencabut kedua tulang lengan atasnya dari tulang pundaknya. Aku juga telah mencabut kedua tulang pangkal paha dari kedua pahanya, kedua pahanya dari ruasnya, kedua ruasnya dari tulang betisnya dan kedua betisnya dari kedua telapak kakinya.’”
Sejenak kemudian Umar menangis, lalu berkata, “Bukankah dunia itu fana, orang mulia akan menjadi hina, yang kaya akan menjadi miskin papa, yang muda akan berangsur tua dan yang hidup akhirnya mati juga?”

Kisah-kisah Pembangun Jiwa


Suasana pasar kota Madinah tampak ramai,di sana sini terdengar suara hiruk pikuk antara para pedagang yang menawarkan dagangan dan para pembeli yang mencoba menawar barang.

Di antara pedagang itu terdapat seorang budak hitam yang sedang berteriak memperkenalkan dagangannya,budak hitam tersebut sebenarnya sedang berada dalam perjanjian untuk menebus dirinya sendiri dari tuannya,karna itulah ia begitu giat mengumpulkan uang agar bisa meraih kebebasan.

Saat si budak hitam itu sedang berteriak menawarkan dagangan tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang,sebelum si budak hitam sempat mengenal orangnya,orang itu sudah menutup kedua matanya.

“siapa ini?lepaskan aku!lepaskan aku!”kata si budak hitam terkejut,lalu orang itu pun melepaskan kedua tangannya dari mata si budak hitam,kedua tangannya diturunkan dan berada dalam keadaan memeluk si budak hitam.

Dengan penuh rasa penasaran si budak hitam segera menoleh kebelakang untuk mencari tahu siapakah yang sedang menggodanya,setelah menyadari siapa orang itu si budak hitam begitu terkejut sekaligus gembira.

Jantungnya berdebar kencang namun hatinya merasa begitu nyaman,ternyata orang itu adalah orang yang paling dicintainya dari sekian banyak makhluk yang tercipta di bumi,dialah makhluk yang paling di muliakan di seluruh penjuru semesta,dan kini orang itu sedang mendekapnya,orang itu tidak lain adalah Muhammad al-Musthafa yang mendapat gelar kemuliaan dari Yang Mahamulia dengan sebutan Rasulullah.

Si budak hitam begitu bahagia..sangaat bahagia,dengan manja ia merapatkan punggungnya ke dada Nabi saw,dan Nabi saw pun memeluknya lebih erat.Lalu dengan berlagak sebagai pedagang Nabi saw berteriak,”budak,budak,siapa yang mau beli?”

Si budak hitam tersenyum dan berkomentar,”budak hitam sepertiku apa bisa laku,ya Rosul?”.Nabi saw tersenyum dan berkata,”engkau jauh lebih mahal di bandingkan langit dan bumi.”


“Seorang pesimistis menganggap dirinya sebagai korban kejahatan orang lain dan zaman.”  (Yusuf al-uqsary)

Diteras sebuah rumah tampak seorang kakek sedang asyik bermain catur dengan cucunya,beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah mereka.

Seorang laki-laki berjas hitam keluar dari dalam mobil dan menghampiri si kakek untuk menanyakan sesuatu,”Maaf kek,saya merencanakan untuk pindah rumah ke kampung ini,namun sebelumnya saya mau bertanya ,bagaimanakah prilaku orang-orang yang tinggal di sekitar sini?”

Si kakek balik bertanya,”Anda sendiri sebelumnya tinggal di lingkungan yang bagaimana?”
“Sebelumnya saya tinggal di limgkungan orang-orang yang sombong,egois serta memiliki sikap yang dingin.”jawab lelaki itu.

Si kakek mendesah dan berkata,”Sayang sekali,di daerah inipun orang-orangnya memiliki sifat sombong,egois serta bersikap dingin.”

Lelaki itu tampak kecewa,lalu ia kembali masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan halaman rumah kakek,sementara si kakek kembali dengan kesibukannya bermain catur dengan cucunya.

Beberapa saat berselang,tiba-tiba seorang pemuda dengan mengendarai sepeda motor berhenti di halaman rumah kakek,pemuda itu turun dari motornya dan menghampiri si kakek untuk menanyakan sesuatu,” Maaf kek,saya merencanakan untuk pindah rumah ke kampung ini.namun sebelumnya saya mau bertanya ,bagaimanakah prilaku orang-orang yang tinggal di sekitar sini?”

Si kakek pun balik bertanya,”Anda sendiri sebelumnya tinggal di lingkungan yang bagaimana?”

“Sebelumnya saya tinggal di lingkungan orang-orang yang menyenangkan,ramah dan baik hati.”Jawab pemuda itu.

Si kakek tersenyum dan berkata,”Masyarakat di sekitar sinipun orangnya menyenangkan,ramah dan baik hati.”

Pemuda itupun tersenyum puas ,ia kembali mengendarai motornya dan melaju meninggalkan halaman rumah si kakek.

Melihat pemandangan itu,cucu kakek hanya diam dengan penuh tanda tanya,si kakek mengetahui apa yang membuat cucunya bingung.

Dengan penuh kebijaksanaan si kakek pun memberi penjelasan,”Kehidupan ini ibarat sebuah cermin,ia akan memantulkan apapun persangkaan yang kita buat tentangnya.Jika kita memandang dunia dengan tersenyum maka dunia akan tampak berbinar,namun jika kita memandang dunia dengan wajah murung maka dunia pun akan tampak begitu kelam.”



Pada masa kekuasaan Umar bin Khottob,islam mengalami kemajuan yang sangat pesat,di bawah kepemimpinannya islam berhasil menaklukkan banyak wilayah,sehingga nama Umar ra pun menggema di seluruh imperium,membuat para Kisra dan Kaisar bergidik ngeri saat mendengar namanya.

Umar ra dikenal sebagai seorang Khalifah yang tegas dan keras sehingga orang-orang merasa segan terhadapnya,bahkan setan-setan pun akan lari berhamburan saat mendengar suara langkahnya.

Apalagi anak-anak yang masih kecil dan lugu,jika mereka sedang asyik bermain lalu terlihat bahwa sang Khalifah akan melewati tempat mereka bermain,mereka akan bubar dan berlarian ke rumah mereka masing-masing.

Tapi saat itu,ketika Umar ra melewati sekelompok anak-anak yang sedang bermain,seorang anak kecil masih tetap di tempatnya dan tidak beranjak sedikitpun padahal teman-temannya sudah lari ketakutan melihat kedatangan Umar ra.

Sang Khalifah merasa heran dan takjub karna keberanian anak itu yang tak lain adalah Abdullah bin Zubair,lalu dengan nada bercanda Umar ra bertanya pada Abdullah, “semua temanmu lari,tapi kau tidak ikut lari.apa kau tidak merasa takut?”

Si kecil Abdullah dengan tenang menjawab,”aku tidak melakukan kejahatan sehingga harus takut padamu,dan jalan ini tidaklah sempit sehingga aku harus melapangkannya untukmu.”


“orang pandai adalah yang paling bisa mengerti akan hidup dimana ia ditempatkan”

 Pada bulan romadlon seorang santri berkunjung ke tempat kyainya untuk berbuka puasa,saat adzan maghrib berkumandang sang kyai menyuguhkan segelas air sirup untuk santrinya dan segelas sirup untuk dirinya sendiri.

Keduanya langsung membaca do’a berbuka dan meneguk sirup itu untuk membasahi kerongkongan yang sedari pagi sengaja tidak terlewati apapun.

Santri itu sejenak memandangi gelas yang ada digenggaman tangannya lalu ia pun berkomentar,”kyai,aku rasa gelas ini terlalu tipis sehingga mudah pecah,apa tidak sebaiknya kyai menggantinya dengan gelas yang lebih tebal?” 

Sang kyai hanya tersenyum mendengar komentar polos dari santrinya itu,dengan tenang kyai menanggapi komentar santrinya,”aku rasa aku tak perlu mengganti gelas itu dengan yang lebih tebal,tapi kamu sendirilah yang harus belajar untuk lebih berhati-hati   menggunakannnya karna gelas itu begitu tipis dan mudah pecah.”


“Kita bukan kaya karena apa yang kita miliki melainkan kaya karena yang mampu kita perbuat tanpa kekayaan itu.”

  Suatu ketika Nabi Isa as sedang berjalan melalui sebuah pasar,orang-orang Bani Israel yang melihatnya berteriak menghina dan mengejek Nabi Isa.

Mendengar berbagai hinaan yang ditujukan kepadanya Nabi Isa hanya tersenyum,dengan tenang dia berdo’a kepada Allah agar orang-orang Bani Israel diberikan kebaikan dan keselamatan.

Muridnya heran melihat perbuatan gurunya,”Engkau mendo’akan orang-orang itu? apa engkau tidak marah sama sekali dengan perlakuan mereka?”

Nabi Isa dengan penuh kebijaksanaan pun menerangkan,”Saat ini tidak ada apapun di dalam kantongku,hanya inilah yang bisa aku berikan kepada mereka.”




Tiada Jalan Pintas


 “Betapa sering ketergesaan menjadi sebab sebuah keterlambatan” (Aidh al-Qorni)

 Ada seorang murid yang hendak belajar ilmu bela diri,sebelum pelajaran di mulai murid tersebut bertanya kepada gurunya,”guru,kira-kira berapa waktu yang saya perlukan untuk menyelesaikan semua pelajaran yamg guru sampaikan?”

Guru itu tersenyum dan berkata,”mungkin 5 tahun”

Murid itu berpikir sejenak dan berkata,”tapi bagiku itu terlalu lama guru.Bagaimana jika aku belajar sungguh-sungguh siang malam,aku akan mencoba belajar dengan sangat keras dan sedikit saja kuluangkan waktu untuk beristirahat..kira-kira berapa waktu yang diperlukan untuk bisa menyelesaikan semua pelajaran yang guru sampaikan?”

Guru itu dengan tenang menjawab,”mungkin 10 tahun.”